Wednesday, 6 July 2011

The Beatles



WHITE ALBUM - Album Politis dan Individualistis
Bulan Mei 1968 The Beatles berkumpul di rumah George Harrison di Esher, membahas produksi album studio yang ke-9. Album ganda tersebut yang tadinya disiapkanberjudul A Doll’s House itu kelak bertajuk The Beatles, tetapi lebih dikenal sebagai The White Album karena berwarna putih dan minimalis.
Album berdurasi 93,5 menit itu terdiri atas dua piringan hitam (PH) yang berisikan 30 lagu, yang diperas dari 100-an lagu yang sebagian sempat direkam. Kali ini The Beatles amat produktif karena sebagian besar karya itu diciptakan saat mereka punya waktu senggang yang mencukupi ketika sedang berguru pada Maharishi Yogi di Rishikesh, India. Tatkala masuk studio, John Lennon telah menulis 14 nomor, Paul McCartney tujuh, dan Harrison lima.
McCartney mengakui, pengalaman di Rishikesh mengembalikan ingatan mereka pada masa kecil. Di Rishikesh mereka dan sejumlah artis/musisi lainnya tak mengerjakan apa pun, kecuali bersemadi, mendengarkan khotbah Maharishi, dan bermusik bersama musisi lain, seperti Donovan dan Mike Love, personel band asal Amerika Serikat (AS), The Beachboys.
Oleh sebab itu, The White Album agak didominasi oleh nomor-nomor yang kaya dengan kenangan masa kecil. Ada ”Dear Prudence” yang merupakan ajakan kepada teman untuk bermain-main, ”Cry Baby Cry” dan ”Piggies” yang bersumber dari dongeng khas Inggris. Lalu ada pula ”The Continuing Story of Bungalow Bill” yang menampilkan chorus ”all the children play”, ”Rocky Racoon” yang diinspirasi dari cerita koboi kegemaran McCartney saat kecil, serta ”Blackbird” dan ”Mother’s Nature Son”.
Setahun sebelumnya The Beatles merilis Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967), sebuah magnum opus yang dinilai sebagai album yang memelopori perkembangan musik psikedelik dan rock progresif sekaligus. Sgt Pepper’s atau album setelah itu, Magical Mystery Tour (1967), tak bisa dibandingkan dengan The White Album karena The Beatles band yang tak mau berhenti progressed sekalipun kontinuitas kreativisme dari album ke album mereka tentu terus bersambung juga.
Bagi sebagian penggemar, The White Album justru lebih sempurna. Lihat misalnya komentar Tony Palmer, kritikus seni yang menulis di harian The Observer. Ia menulis album itu ibarat ”lanskap yang gagal ditemui musisi-musisi” karena ia merupakan ”sebuah keindahan proses pembuatan musik yang bening dan teduh”. Dalam istilah Palmer, penggemar menikmati The White Album seolah-olah seperti sedang menikmati ”burung-burung hitam yang berterbangan”.
Bernuansa politis
Selain aspek kreatifnya, The White Album juga bernuansa politis. Seperti dipahami, 1968 merupakan tahun yang bergejolak karena protes masyarakat Barat terhadap Perang Vietnam. Kerisauan generasi muda tampak jelas dari lirik dua nomor album ini, ”Revolution 1” dan ”Revolution 9” yang ditulis Lennon. Sedangkan McCartney berpolitik lewat lirik ”Back in the U.S.S.R.” yang menyindir hipokrisi dua negeri adidaya, AS yang menghancurkan Vietnam dan Uni Soviet yang menginvasi Cekoslowakia.
Barangkali satu-satunya karya yang sampai saat ini masih menjadi topik pembahasan para ahli filsafat politik yang mendalam adalah nomor ”Happiness is A Warm Gun”. Lennon sebagai penulis liriknya mengatakan bahwa lagu ini hanya merupakan sejarah singkat rock’n’roll yang terdiri atas paduan musik rakyat dan rock yang dimainkan dalam lima tempo, yang butuh lebih dari 100 kali take. Namun, jika menurut tafsir ulang para filsuf politik, lirik ”Happiness” merupakan observasi sosial yang ganjil, sinis, kasar, sekaligus brilian.
Dan, di luar aspek kreatif serta politik, The Beatles berada di ambang proses pendewasaan diri. Kondisi bisnis mereka agak terancam setelah manajer Brian Epstein meninggal dunia, hubungan pribadi di antara mereka memburuk, dan tiap personel mulai berkembang secara mandiri alias meninggalkan institusi The Beatles sebagai peer group yang menyatukan Lennon, McCartney, Harrison, dan Starr.
Lennon memulai hubungan asmara dengan Yoko Ono, begitu juga McCartney kasmaran berat dengan Linda Eastman. Harrison bagaikan hidup di dunia sendiri dan, untuk pertama kalinya dalam sejarah The Beatles, membawa bintang tamu Eric Clapton untuk mengisi gitar solo dalam nomor ”While My Guitar Gently Weeps”. Starr ”mencatat rekor” sebagai orang pertama yang menyatakan mundur dari The Beatles, membuat ketiga rekannya ramai-ramai membujuk ia membatalkan keputusannya itu—permintaan yang akhirnya tak dapat ditolak Starr.
Keretakan The Beatles makin terasa ketika mereka memulai proses rekaman album selanjutnya, Let It Be (1970), yang dirilis hampir dua tahun setelah diproduksi di studio. Kali ini Harrison yang minta keluar, dilanjutkan oleh kemarahan Lennon yang secara unilateral menyatakan ia sebagai pendiri membubarkan The Beatles. Dan, McCartney- lah yang mengakhiri petualangan The Beatles ketika mengajukan pembubaran melalui proses pengadilan tak lama setelah mereka merilis album terakhir, Abbey Road (1969).
Mereka sebenarnya berusaha mati-matian agar tetap bertahan, tetapi juga sadar mustahil menyatu kembali karena mulai mengepakkan sayap sendiri-sendiri. Mereka menyiapkan album solo dan memulai kehidupan pribadi dan keluarga masing- masing. Dan, mereka toh telah memberikan The White Album, karya yang sampai kini dikenal sebagai satu-satunya album The Beatles yang politis sekaligus individualistis.



SEBUAH HISTORY PANJANG

Eksis di tahun 60-an, The Beatles tumbuh menjadi sebuah ikon dalam budaya pop dunia. Mereka tak hanya berpengaruh secara musikal tetapi juga dalam penampilan dan sikap. Para remaja saat itu meniru habis-habisan, mulai dari model rambut hingga ke sepatu. Gaya seperti itu juga tak terbatas di Inggris dan Amerika tetapi juga merambat hingga ke Indonesia.. 
''The Beatles pertama kali masuk ke Indonesiasekitar tahun '63 lewat lagu I Saw You Standing There. Meski info yang kami terima hanya sedikit tetapi gaya The Beatles langsung mewabah di sini,'' kenang Abadi Soesman, musisi yang hingga kini tetap setia membawakan lagu-lagu The Beatles.

Dulu, cerita Abadi, kelompok The Beatles dikelola secara multisektor. Mereka tak hanya mengusung musik yang unik tetapi juga menawarkan penampilan yang tidak lazim. ''Di saat musik formal seperti instrumentalia dan pop merajai pasaran, mereka datang dengan komposisi lagu dan gaya panggung yang lain. Waktu itu The Beatles menjadi pelopor rambut gondrong berponi seperti model rambut perempuan,'' ujar Abadi yang pernah juga bergabung dengan God Bless dan Bharata Band. 

Sayangnya musik The Beatles kemudian dilarang di Indonesia yang saat itu didominasi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Inilah salah satu kebiadaban PKI. Piringan hitam (PH), buku, dan majalah musik dibakar. Siapa yang meniru dandanan rambut dan pakaian Beatles, digunting di jalanan. Koes Bersaudara, pelopor grup rock 'n roll di Indonesia, ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Bahkan memainkan lagu Barat dilarang. 

Info tentang Beatles kemudian menjadi 'barang' mewah yang hanya didapat oleh kalangan tertentu. ''Waktu itu kami mengenal lagu The Beatles lewat siaran radio Australia dan sesekali dari Majalah Time atau piringan hitam yang hanya dipunyai beberapa orang saja. Meski dilarang, saya tetap nekad main band bareng teman, dulu band saya namanya Irama Abadi. Kami sempat juga ditangkap Kodim saat mentas dan ditanyai macam-macam,'' kenang Abadi. 

Begitu hebat pengaruh revolusi rock n' roll, rambut gondrong, serta dananan The Beatles lekas mewabah ke seluruh dunia. Di negara asal mereka, Inggris, The Beatles sempat juga ditentang habis-habisan oleh kalangan orang tua yang konservatif. Mereka dianggap telah menyebarkan virus rock n' roll yang membahayakan generasi muda Inggris. 

Sejarah The Beatles sendiri berawal sekitar tahun '56 saat John Lennon yang masih berusia 16 tahun, membentuk band skiffle (sejenis musik folk tradisional) The Quarrymen. Tetapi musik skiffle bukan tujuan utama John, seperti remaja Liverpoollainnya ia ingin mengusung musik rock n'roll dan R&B. Niat John mulai terwujud setelah bertemu Paul McCartney setahun kemudian. 

Sebenarnya musik R&B saat itu kurang populer di Inggris. Karya musisi AS seperti Chuck Berry, Little Richard, Buddy Holly, dan Elvis Presley sangat jarang terdengar di Inggris yang dikuasai kalangan konservatif. Apalagi di akhir tahun 50-an popularitas mereka menurun. Buddy Holly, Ritchie Valens, dan J.P. Richardson meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang, Elvis masuk militer, dan Chuck Berry dipenjara selama dua tahun. 

Tetapi di Liverpool musik R&B masih terdengar lewat rekaman yang dibawa para pelaut dari AS. Rekaman tersebut selalu diburu para remaja yang gemar meniru lagu-lagu mereka, salah satunya adalah para personil Quarrymen yang terdiri dari John (ritem gitar), Paul (ritem gitar), George Harrison (gitar), dan Stuart Sutcliffe (bas). 

Nama The Quarrymen kemudian berganti menjadi John & The Moondogs, lalu Silver Beetles. Tak lama sebelum Pete Best (dram) bergabung (1960), mereka kembali berganti nama menjadi The Beatles. ''Kami sedang memeras otak ketika John tiba-tiba menawarkan nama Beatle. Nama itu bagus karena asalnya dari kata beetle (serangga) yang diplesetkan menjadi 'beat','' tutur George. 

Bermodal lagu-lagu R&B milik Chuck Berry, Little Richard, Carl Perkins, dan Buddy Holly, The Beatles kemudian menggelar pentas di Hamburg, Jerman. Petualangan di Hamburg terpaksa harus berakhir saat George dideportasi karena masih di bawah umur dan mereka juga tidak memiliki visa pekerja. 

Untungnya The Beatles sempat menggelar 30 pertunjukan selama di Hamburg. Jumlah jam terbang tersebut cukup untuk mendapat tanggapan dari publik Liverpool dan mereka dipercaya untuk tampil di Cavern Club. The Beatles lalu mulai membangun imej dengan dandanan mereka. 

Potongan rambut karya Astrid Kirchherr, tunangan Stuart yang berkebangsaan Jerman, kemudian diikuti oleh semua personil Beatles. Model rambut agak gondrong dan berponi ini kemudian dikenal dengan sebutan 'mop top' karena memang agak mirip sapu ijuk. 

''Suatu hari saya pergi berenang. Setelah keluar dari kolam dan mengeringkan rambut, rambut saya jatuh ke depan semua persis sapu (mop)... saya biarkan saja seperti itu. Dari situ orang menyebut potongan rambut tersebut sebagai potongan Beatles,'' cerita George dalam sebuah wawancara di tahun '64. 

Bersama Stuart mereka kembali menggelar pentas di Hamburg. Bulan Juli tahun 1961, the Beatles kembali ke Inggris tanpa Stuart. Dia memutuskan untuk tinggal di Hamburg sebagai pelukis (tak sampai setahun kemudian Stuart meninggal akibat pendarahan otak). 

Paul lalu beralih dari ritem gitar ke bas. Mereka kembali beraksi di Cavern Club, Liverpool, hingga bertemu Brian Epstein, mantan siswa Royal Academic of Dramatic Art di London yang pulang ke Liverpool untuk mengelola toko kaset ayahnya. ''Sebelum melihat penampilan The Beatles di Cavern Club saya sama sekali buta tentang manajemen artis pop. Ini dunia baru buat saya!'' tegas Brian yang pertama kali tertarik pada Beatles lewat lagu My Bonnie yang direkam di Hamburg bareng penyanyi Tony Sheridan. 

Brian lalu menjadi manajer The Beatles dan saat itu ia mengubah habis-habisan dandanan mereka. Jaket kulit dan jeans ketat diganti dengan setelan Pierre Cardin berwarna abu-abu dan potongan rambut yang lebih rapi. Usaha Brian untuk mendapatkan kontrak rekaman bagi The Beatles berulang kali gagal. Pada tahun '62 produser George Martin tertarik dan merekrut mereka ke label Parlophone (EMI). 

Pete Best yang dinilai permainan dramnya kurang memadai kemudian dipecat dan posisinya diisi Ringo Starr (Richard Starkey) mantan dramer Rory Strome And The Hurricane. Bersama Ringo mereka merekam dua single, Love Me Do dan P.S. I Love You yang langsung menjadi hit di Inggris. Setahun kemudian The Beatles merilis debut album Please Please Me ('63). 

Single demi single terus mereka luncurkan, dalam jangka setengah tahun saja Beatlemania sudah bermunculan. Album Meet The Beatles (1964) kemudian menjadi album pertama yang populer di AS dan mengantarkan mereka menginjak bandara KennedyNew York untuk pertama kali. Disaksikan 73 juta penonton televisi AS, The Beatles tampil pada acara Ed Sulivan Show. Dari berbagai interview, mereka berhasil membangun imej sebagai band yang smart, cuek, dan lucu. Kehadiran The Beatles di AS juga menandai era British Invasion dan memicu beatlemania. 

''Tampil di acara Sunday Night at The Palladium, The Ed Sullivan Show, pergi ke Amerika dan merekam album nomor satu adalah sedikit di antara ambisi kami yang segudang,'' kata Paul. Padahal saat tampil di Palladium, John sempat menyindir kaum ningrat Inggris dengan ucapan, ''Buat penonton di kursi murah, silakan bertepuk tangan. Selebihnya cukup membunyikan perhiasan.'' 

Dalam jangka waktu dua tahun saja, The Beatles telah mencetak 26 single di Billboard Top 40 (termasuk 10 lagu nomor satu) dan tujuh album terbaik. Mereka terus menggelar tur keliling Eropa, Amerika UtaraAustralia, dan Jepang. The Beatles juga merilis dua film hit, A Hard Day's Night dan Help!. 

Pengaruh Bob Dylan dan The Byrds yang sukses dengan lagu-lagu folk rock kemudian memacu Beatles untuk merilis Rubber Soul ('65). Lirik lagu dalam Rubber Soul dinilai lebih introspektif dan lebih menonjolkan suara akustik, termasuk sitar. Selain lagu-lagu klasik yang ditulis John dan Paul (Norwegian Wood, Drive My Car, dan Michelle), George juga menulis lagu terbaiknya, If I Needed Someone. 

Popularitas The Beatles terus menanjak hingga tahun 1966, saat sebuah majalah remaja, Datebook, mengutip perkataan John yang mengundang sensasi. ''Kini kami lebih populer dari Yesus. Saya tak tahu apa yang lebih utama, rock n'roll atau Kristen.'' Komentar ini mengundang aksi protes di mana-mana, terutama di bagian selatan AS. Album The Beatles dibakar, konser diboikot dan John menerima banyak ancaman pembunuhan. 

Tekanan yang mereka terima akhirnya membuat John tampil meminta maaf secara resmi di Chicago. Tetapi ancaman pembunuhan terus berlangsung hingga akhir tur Amerika di bulan Agustus '66. Mereka lalu kembali ke Inggris untuk menggarap album Revolver. Saat itu karya-karya Paul terpengaruh oleh Beach Boys (Here, There, And Everywhere) dan Motown (Got To Get You Into My Life), sedangkan lagu George, Love To You terpengaruh musik India dan John... terpengaruh drugs! 

Setelah merilis Revolver, mereka menyempatkan diri berlibur. Ringo kembali ke Surrey, George ke India untuk belajar sitar dan yoga, Paul menggarap soundtrack film indie The Family Way, dan John berakting di film How I Won The War (di sana untuk pertama kalinya John memakai kacamata bulat). 

Tak sampai setahun, The Beatles kembali masuk studio rekaman. Lagu Strawberry Fields Forever yang diambil dari nama panti asuhan menjadi lagu pertama yang ditulis John untuk album Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band. Album ini dipenuhi gaya psychedelic dan menandai dimulainya era flower generation. Meski album ini sukses di pasaran, tetapi tanda-tanda keretakan The Beatles mulai terlihat. 

Keadaan bertambah buruk setelah manajer mereka, Brian Epstein meninggal di tahun '67 akibat over dosis. Para personil The Beatles mulai mendirikan label rekaman dan butik sendiri, yang dua-duanya diberi nama Apple. Mereka juga mulai berguru pada Maharishi Mahesh Yogi yang mengajarkan meditasi dan spiritual India. Awal '68 The Beatles mengikuti Maharishi keRishikeshIndia. Ringo cuma bertahan 10 hari, Paul 5 minggu, sedangkan John dan George bertahan sampai 2 bulan. Tetapi mereka kemudian menjauhi Maharishi setelah mendengar gosip sang guru menggoda artis Mia Farrow. Kejadian tersebut mengilhami John untuk menulis lagu Sexy Sadie yang semula akan diberi judul Maharishi. 

Era double album bersampul putih yang populer dengan nama The White Album ('68) menandai dimulainya hubungan serius antara John dan Yoko Ono, sementara Paul mulai berkenalan dengan fotografer Linda Eastman. Saat itu pula mereka berkenalan dengan Eric Clapton lewat produser George Martin. Eric lalu bermain solo di nomor karya George, While My Guitar Gently Weep. Seminggu setelah White Album dirilis, John merilis album solo Two Virgin. 

Setelah John dan Paul menikah di tahun '69, The Beatles kembali merilis album. Album Abbey Road mereka garap di tengah perselisihan tentang siapa yang pantas menjadi manajer. Paul menginginkan Lee Eastman, mertuanya yang seorang pengacara. Sedangkan John menghendaki posisi itu dipegang Allen Klein (manajer Rolling Stone). Sementara Ringo dan George berpihak pada John. 
Abbey Road menjadi album terakhir The Beatles yang berisi materi lagu baru. Di sisi A mereka banyak menampilkan lagu pop rock, seperti Come Together, Oh Darling dan Something, sementara side B diisi lagu bergaya Sgt. Pepper yang inovatif dan bagus secara melodi.

Bulan April 1970, Paul merilis album solo McCartney, sekaligus mengumumkan bubarnya The Beatles. Sebulan kemudian album Let It Be yang berisi lagu-lagu lama, dirilis EMI dan diremixed oleh Phil Spector. Setelah itu para personil The Beatles sibuk bersolo karier. Sepeninggal John yang tewas ditembak penggemarnya (1980), Paul, George, dan Ringo sesekali bergabung untuk memproduksi kembali lagu lama mereka. Dan di tahun '95 lagu Free As A Bird dan Real Love yang berasal dari demo John, mereka sempurnakan dan direkam dalam The Beatles Anthology. 
DISKOGRAFI : 

Love Me Do (Single), 1962 
In The Beginning/ The Early Tapes, 1962 
With The Beatles, 1963 
Please Please Me, 1963 
Something New, 1964 
Second Album, 1964 
Meet The Beatles, 1964 
Early Beatles, 1964 
Beatles For Sale, 1964 
A Hard Day's Night, 1964 
Rubber Soul, 1965 
Help!, 1965 
Beatles '65, 1965 
Yesterday and Today, 1966 
Revolver, 1966 
Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band, 1967 
Magical Mystery Tour, 1967 
Hello Goodbye (single), 1967 
The White Album, 1968 
Lady Madonna (single), 1968 
Yellow Submarine (soundtrack), 1969 
Abbey Road, 1969 
Let It Be, 1970 
Hey Jude, 1970 
1962-1966 (Red Album), 1973 
1967-1970 (Blue Album), 1973 
The Beatles Tapes From The David Wiggs Interviews, 1976 
Rock 'N' Roll Music vol.1 & 2, 1976 
Love songs, 1977 
Live In Hamburg 1962, 1977 
Live At The Star Club, 1962 Vol. 1 & 2, 1977 
Live At Hollywood Bowl, 1977 
Rarities, 1980 
20 Greatest Hits, 1981 
Reel Music, 1982 
Past Masters Vol. One and Two, 1988 
Multiselection Boxed Set, 1988 
Conquer America, 1988 
First U.S. Visit, 1991 
The Beatles Tapes I; In the Northwest, 1992 
Talk Downunder, 1992 
West Coast Invasion, 1993 
Things We Said Today, 1993 
The Beatles Live: Ready, 1993 
Not A Second Time, 1993 
Moviemania!, 1993 
From Britain With Beat, 1993 
East Coast Invasion, 1993 
All Our Loving, 1993 
The Beatles Tapes II; Early Beatlemania, 1994 
Live at The BBC, 1994 
Things We Said Today-Talking With The Beatles, 1995 
The Beatles Tapes III; The 1964 World Tour, 1995 
The Beatles Anthology: 1, 1995 
Talk Downunder: Australia Beatlemania, 1995 
Quote Unquote-The Sixties Interviews, 1995 
Paul McCartney: Beyond The Myth, 1995 
John Lennon Forever, 1995 
In Their Own Words-The Lost..., 1995 
Dark Horse:...George Harrison, 1995 
The Savage Young Beatles In Hamburg 1961, 1996 
The Beatles Anthology 2 & 3, 1996 
Yellow Submarine Songtrack, 1999 
The Legend Begins, 1999 
Savage Young Beatles, 2000

Wednesday, 6 April 2011

10 Tahun Nirvana Sejarah dan Legenda yang Masih Berkibar Menembus Langit


Tanggal 6 April, dua belas tahun lalu. Kurt Cobain, vokalis kelompok musik Nirvana ditemukan meninggal di kamar atas rumah kakaknya di Seattle. Cobain memutuskan wafat dengan menembak diri, mengakhiri hidup yang penuh depresi. Seperti juga para legenda rock pendahulunya. Sebut saja nama seperti Jim Morrison, Janis Joplin, Jimi Hendrix, Bon Scott dan masih banyak lagi yang lain. 

Sebenarnya hidup vokalis ini tidak terlalu susah-susah amat. Banyak orang yang mencintainya apa adanya. Namun, kepopuleran yang mendadak sepertinya membuat depresi. Hingga akhirnya ia memutuskan memilih narkoba sebagai jalan keluar. Tapi apa lacur, bukan ketenangan yang diraih, ketakutan-ketakutan terhadap banyak hal malah makin menambah depresi hidupnya. Ketergantungan pada narkoba dan berbagai masalah yang tak bisa dihadapi itulah yang akhirnya mengantarkannya menarik pelatuk pistol untuk mengakhiri hidup.


Cobain lahir di Aberdeen, Washington, pada tanggal 20 Februari 1967. Karena orang tuanya memutuskan berpisah, memaksa ia harus tinggal bersama kakaknya di Seatlle. Kehidupan di Seatlle tampaknya yang banyak menginspirasikan lagu-lagu karyanya. Seperti lagu ”Something in the Way”, ternyata diciptakannya saat ia memutuskan tak pulang dan menggelandang di kolong-kolong jembatan kota itu.
Cobain pertama kali bertemu Krist Novoselic pada tahun 1985. Bersama Krist, mereka memutuskan membuat grup musik. Hingga album Bleach dirilis, kelompok mereka masih beranggota empat orang, belum termasuk Dave Grohl. Baru pada saat mereka merilis Nevermind, Grohl bergabung sebagai dramer. Formasi ini kemudian yang menjadi formasi terbaik selama keberadaan Nirvana.


Dengan debut lagu ”Smell Like Teen Spirit”, mereka kemudian mengguncang dunia. Melahirkan genre musik baru, yang disebut-sebut sebagai alternatif, yang mengandalkan gerung kasar gitar elektronik dan harmonisasi manis melodi. Pilihan ini pun menjadi pujaan pada saat itu. Ditambah dengan ulah urakan Kurt Cobain, gema band ini makin menjadi-jadi.
Februari 1992, Cobain akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi vokalis kelompok musik Hole, Courtney love. Dari pernikahan ini, mereka memiliki seorang anak yang kemudian dinamai Frances Bean Cobain. Nama ”Bean” sebenarnya atas permintaan Kurt. Karena ia pernah melihat anaknya seperti kacang, pada saat terapi USG dilakukan Courtney love.
Hingga tahun-tahun setelah penikahan, kehidupan Cobain menjadi makin tak menentu. Meskipun tetap melahirkan album-album yang laris manis di pasaran. Namun, tetap saja depresi yang diterimanya tak dapat ia tolak. Musim Semi 1993, album ketiga mereka berjudul In Utero dirilis. Namun harum penjualan album ini malah makin membuat parah depresi yang diterima Kurt. Pemakaian narkoba yang berlebihan membuatnya merasakan overdosis beberapa kali selama tahun tersebut.
Sesaat sebelum kematiannya, Kurt sempat membuat sebuah penampilan manis di panggung MTV Unplugged. Penampilannya yang terakhir inilah yang kemudian dijadikan album terakhirnya, berjudul Nirvana MTV Unplugged in NewYork.


Hingga kini beberapa karya miliknya tetap beredar di pasaran musik dunia. Bahkan gitar kesayangan miliknya, terakhir terjual hingga US$117 juta. Rupanya anak brandal ini belum berkurang juga sinarnya. Salah satu kabar terakhir yang diterima menyatakan bahwa pihak perusahaan Warner Bros–pun tampaknya berminat untuk membuat film tentang diri pemuda tersebut. Film yang didasari buku biografi Nirvana Heavier Than Heaven karangan Charles Gross, telah dimulai pada tahun ini 2009..

Monday, 4 April 2011

hahahaahaha...

Setelah sekian lama di perantauan akhirnya Rahmat pulang ke kampung untuk berjumpa dengan neneknya.

Nenek : "Rahmat, nenek sudah tidak kuat lagi, nenek minta kamu sambung mengusahakan kebun nenek..."

Rahmat : "Jangan cakap macam tu, nek..." (dalam hati, tak sia-sia aku balik kampung... dapat pulak harta pusaka nenek).

Nenek : "Segala isi perkebunan, ternakan, villa, traktor untuk kamu. Tolong jaga baik-baik, jangan lupa disiram tiap hari tanaman nenek."

Rahmat : "Baik nek, nenek jangan bimbang tentang hal itu... Tapi dimana kebun nenek? Rahmat tidak pernah tahu?"

Nenek : "Di Facebook nenek, FARMVILLE, nanti nenek bagi tau passwordnya."

Rahmat : "?????"